141 0

Semasa kecilnya, saat Kiai Abdul Aziz Manshur di Lirboyo sering memperhatikan kakek sekaligus gurunya, KH. Abdul Karim atau Mbah Manaf. Dilihatnya sang kakek tidak pernah tidur di malam hari. Selesai memberikan pengajian kepada para santri, sang kakek selalu saja menghabiskan malamnya dengan shalat sunnah dan berdzikir hingga pagi. Jika pun tidur, sangat sebentar.

Karena penasaran lalu Aziz kecil pun dengan polos bertanya kepada ibunya, Nyai Salamah, yang merupakan putri KH. Abdul Karim. “Mak, Mbah iku nek mbengi kok gak tau turu to Mak? (Mak, Kakek kalau malam kok tidak pernah tidur)”.

“Iyo Le, Mbahmu eling oleh titipan anake wong sak pirang-pirang. Gak wani turu nek durung ndongakno santri-santri. (Iya Nak, Kakekmu selalu ingat mendapat titipan anaknya orang banyak. Tidak berani tidur kalau belum mendoakan santri-santri)”, jawab sang bunda.

KH. M. Abdul Aziz Manshur tidak pernah bosan menyampaikan pesan, nasehat dan wasiatnya kepada para santri bahwa, “Pondok pesantren tidak bisa diada-adakan, dan kalau ada tidak bisa dihindari. Salah satu pesan KH. M. Abdul Aziz Mansur, “Santri pulang harus bisa jadi paku. Artinya, paku digunakan untuk membangun rumah sebagai tempat berteduh. Demikian juga santri, ketika pulang dari pondok dia ibarat orang yang membuat rumah yang bisa mengayomi masyarakat.”

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Swt. dan diampuni semua kesalahannya. Mohon ikhlasnya untuk membacakan surat al-Fatihah untuk beliau, al-Fatihah…

http://www.pkbtv.com/

(Visited 146 times, 1 visits today)

Category:

Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*