22 0

Mulai 1 Oktober 2017, pembayaran di gerbang tol seluruhnya dilakukan secara non tunai dengan menggunakan uang elektronik.

Segala persiapan telah dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), dan perbankan.

Deputi Gubernur BI Sugeng menjelaskan, penerapan ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo. Pada April 2016 lalu, Presiden menyatakan bahwa transaksi di jalan tol harus bebas antrian.

“Presiden telah memberikan arahan yang tegas dan jelas pada bulan April 2016 terkait transaksi pembayaran di jalan tol agar antrian di gerbang tol dihilangkan,” jelas Sugeng dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Presiden pun mengungkapkan, semua transaksi dilakukan dengan aplikasi-aplikasi sensosik. Selanjutnya, aplikasi tersebut nantinya dihubungkan dengan akun di bank.

Pada periode Lebaran lalu pun telah dilakukan uji coba pembayaran tol dengan transaksi non tunai. Hasilnya, pangsa transaksi non tunai di jalan tol meningkat signifikan dari 16,4 persen di Januari 2016 menjadi 28 persen pada Juni 2017.

“Nilai transaksi non tunai di jalan tol turun meningkat pesat antara 90 sampai 100 persen pada periode yang sama,” ujar Sugeng.

Selain itu, penetrasi transaksi non tunai di jalan tol area Jabodetabek menjadi 33 persen di bulan Juni 2017.

Saat ini, di gerbang tol terdapat dua jenis lokat pembayaran, yakni gerbang tol otomatis (GTO) dan manual.

Gerbang tol manual pun saat ini telah menerima pembayaran baik secara non tunai maupun tunai.
Oleh sebab itu, gerbang tol manual tersebut dinamakan gerbang tol hibrid. Namun, mulai Oktober 2017 mendatang, gerbang tol hibrid hanya melayani transaksi secara non tunai.

(Visited 22 times, 1 visits today)

Category:

Berita